BAHASA INDONESIA
Nama : AJI CAHYO LAKSONO
Kelas : 1 KB 03
NPM : 20114670
PENGERTIAN RESENSI
Resensi /résénsi/ menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
adalah pertimbangan atau pembicaraan tentang nilai sebuah hasil karya, baik itu
buku, novel, majalah, komik, film, kaset, CD, VCD, maupun DVD; ulasan hasil
karya. Sedangkan kata "mengulas" itu sendiri mempunyai arti
memberikan penjelasan dan komentar, menafsirkan (penerangan lanjut, pendapat,
dsb), mempelajari (menyelidiki) dan kata "ulasan" mempunyai arti
kupasan, tafsiran, komentar.
Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja
revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti
yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie,
sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu
mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas buku. Tindakan meresensi dapat
berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau
mengkritik buku. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya
resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas
Secara singkat, resensi ialah suatu tulisan atau ulasan
mengenai nilai sebuah hasil karya. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para
pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari
masyarakat atau tidak.
tujuan
resensi adalah:
Memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif
(mendalam) tentang apa yang tampak dan terungkap dalam sebuah buku.
Mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan
mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku.
Memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah buku itu pantas
mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
Setelah mengetahui definisi serta tujuan dari resensi yang
dibuat oleh resentator, kira-kira unsur apa saja yang terkandung di dalam
sebuah resensi ?
Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi
adalah sebagai berikut:
1. Membuat
judul resensi
Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh
tulisan atau inti tulisan, tidak harus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat
dibuat sesudah resensi selesai. Yang perlu diingat, judul resensi selaras
dengan keseluruhan isi resensi.
2. Menyusun
data buku
Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
Judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan.
Kalau demikian, tuliskan judul aslinya.).
Pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau
penyunting seperti yang tertera pada buku.).
Penerbit
Tahun terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa).
Tebal buku
Harga buku (jika diperlukan).
3. Membuat
pembukaan
Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini:
Memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa
saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh.
Membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik
oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain
Memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;
Memaparkan keunikan buku;
Merumuskan tema buku;
Mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku
Mengungkapkan kesan terhadap buku;
Memperkenalkan penerbit;
Mengajukan pertanyaan
Membuka dialog
4. Tubuh
atau isi pernyataan resensi buku
Tubuh atau
isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal di bawah ini:
sinopsis
atau isi buku secara bernas dan kronologis
ulasan
singkat buku dengan kutipan secukupnya
keunggulan
buku
kelemahan
buku
rumusan
kerangka buku
tinjauan
bahasa (mudah atau berbelit-belit)
adanya
kesalahan cetak.
Penutup
resensi buku
Resensi Novel Di Bawah Lindungan
Ka’bah
Identitas Buku
Judul Buku : Di
Bawah Lindungan Ka’bah
Penerbit : PT.
Bulan Bintang
Penulis : Prof. DR. (Buya) Hamka (Haji Abdul Malik
Karim Amrullah)
Tahun Terbit :
Jumadil Awal 1422 / Agustus 2001
Cetakan Ke : 25
Tebal Buku : 80
halaman
Kategori :
Novel Sastra
Buku ini berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah yang di karang
oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau sering dikenal dengan nama HAMKA yang merupakan singkatan dari namanya,beliau
lahir di kampung Molek, Meninjau tahun 1908. Beliau seorang ulama,aktivis dan
sasatrawan Indonesia.Beliau dijuluki Buya oleh para sastrawan.Buya adalah
panggilan untuk orang Minangkabau, kata Buya berasal dari bahasa Arab yaitu Abi
yang artinya ayah.
Beliau adalah anak dari syekh Abdul Karim bin Amrullah,yang
merupakan pelopor gerakan islam di Minangkabau.Hamka pernah bekerja menjadi
seorang guru di Perkebunan Kebun Tinggi dan di Padang Panjang,beliau juga
menjadi dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhamadiah, Padang
Panjang,beliau menjabat Pegawai Tinggi Agama,beliau juga sebagai wartawan,
penulis editor dan penerbit. Beliau wafat pada tanggal 24 Juli 1981.
Buku ini dari sisi agama bagus dan kental akan keagamaanya
meskipun bercerita mengenai percintaan, berbeda dengan novel jaman sekarang
ini, sisi keagamaannya kurang di tonjolkan dan lebih mengedepankan tentang
percintaannya,dan juga terlihat dari karya ilmiah yang di hasilkannya yakni
Tafsir al-azhar.
Dari sisi budaya Hamka mampu mengangkat adat dari daerah Minangkabau
dimana seorang perempuan apabila telah lulus dari sekolah MULO (sekarang
sederajat dengan SMP) tidak boleh kemana-mana harus di pingit di rumah sebelum
dia menikah apabila dia mau keluar rumah dia
harus di temani keluarganya atau kepercayaannya.
Dari sisi sosial atau hubungan dengan orang lain sangat bagus
karena dapat memberitahukan bahwa kita harus bersikap dermawan dan dapat peduli
kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan kita meskipun itu dari kalangan
bawah.
Sosok Hamka sangat religius itu terlihat dari buku-buku yang
di karangnya seperti dalam buku ini bercerita tentang percintaan namun tidak
ada unsur negatifnya malah banyak unsur
agamisnya, bukan dari buku ini saja namun dari buku-buku yang beliau karang
seperti Tenggelmnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli dan lain lain.
Buku ini diterbitkan oleh PT.Bulan Bintang yang bertempat di
Jalan Kramat Kwitang ,No.8 Jakarta
10420,Indonesia.
Sinopsis
Dikisahkan ada seorang pemuda bernama Hamid, sejak berumur
empat tahun telah ditinggal mati ayahnya. Ayah Hamid sebelumnya adalah seorang
yang kaya. setelah perniagaannya jatuh dan menjadi melarat,sahabat dan sanak
saudara yang dulu banyak, tak ada lagi sanak saudara dan sahabatnya yang
datang. Karena sudah tak terpandang lagi oleh orang-orang sekitarnya itu, maka
pindahlah ayah Hamid beserta ibunya ke kota Padang, yang akhirnya dibuatnya
sebuah rumah kecil. Di tempat itulah ayah Hamid meninggal.
Tatkala Hamid berumur enam tahun, untuk membantu ibunya ia
minta kepada ibunya agar dibuatkan jualan kue-kue untuk dijajakan setiap pagi.
Ada tetangga baru di dekat rumah hamid terdapat sebuah gedung
besar yang berpekarangan luas. Rumah itu telah kosong karena pemiliknya,
seorang Belanda, telah kembali ke negerinya. Hanya penjaganya yang masih
tinggal, yakni seorang laki-laki tua yang bernama Pak Paiman. Tetapi tak lama
kemudian, rumah itu dibeli oleh seorang-orang kaya yang bernama Haji Jakfar.
Isterinya bernama Mak Asiah dan anaknya hanya seorang perempuan saja yang
bernama Zainab.
Mak Asiah senang memanggil Hamid setiap pagi karena hendak membeli makanan yang dijualnya
itu. Pada waktu itu juga ia ditanya oleh Mak Asiah tentang orang tuanya dan
tempat tinggalnya. Setelah Hamid menjawab pertanyaan itu, Mak Asiah pun meminta
kepada Hamid agar ibunya datang ke rumahnya. Sejak kedatangan ibu Hamid ke
rumah Mak Asiah itulah, maka persahabatan mereka itu menjadi karib dan Hamid
beserta ibunya sudah dianggap sebagai keluarganya sendiri.
Akhirnya Hamid dibiayai noleh haji Jakfar,suami mak
Asiah,juga disekolahkan bersama-sama anaknya, Zainab, yang umurnya lebih muda
daripada Hamid. Pergaulan Hamid dengan Zainab, seperti pergaulan antara kakak
dengan adik saja. Setelah tamat dari SD, Hamid dan Zainab pun sama-sama
dilanjutkan sekolahnya ke Mulo.
Setelah keduanya tamat dari Mulo, barulah Hamid berpisah
dengan Zainab. Keduanya sebenarnya telah saling jatuh cinta.Namun Hamid sadar
akan statusnya.Zainabpun harus masuk
pingitan,menurut adat didesa itu. sedang Hamid yang masih dibiayai oleh Haji
Jakfar, meneruskan pelajaran ke sekolah agama di Padangpanjang. Di sekolah
itulah Hamid mempunyai seorang teman laki-laki yang bernama Saleh.
Pada suatu petang, tatkala Hamid pergi berjalan-jalan di
pesisir, bertemulah ia dengan Mak Asiah yang baru datang dari berziarah ke
kubur suaminya. Ia naik perahu sewaan bersama-sama dua orang perempuan tua
lainnya.
Pada pertemuan itulah Mak Asiah mengharapkan kedatangan Hamid
ke rumahnya pada keesokan harinya, karena ada suatu hal penting yang hendak
dibicarakannya. Setelah Hamid datang pada keesokan harinya ke rumah Mak Asiah,
maka Hamid pun dimintai tolong oleh Mak Asiah agar ia mau membujuk Zainab untuk
bersedia dinikahkan dengan kemenakan Haji Jakfar yang pada waktu itu masih
bersekolah di Jawa. Tetapi permintaan itu ditolak oleh Zainab dengan alasan ia
belum lagi hendak menikah.
Penolakan itu sebenarnya disebabkan Zainab sendiri telah
jatuh cinta kepada Hamid. Bagi Hamid sendiri, sebenarnya ia cinta kepada
Zainab, hanya cintanya itu tidak dinyatakan berterus terang kepada Zainab.
Karena itulah, sebenarnya suruhan Mak Asiah itu bertentangan
dengan isi hatinya. Tetapi karena ia telah berhutang budi kepada Mak Asiah,
maka dilaksanakan permintaan tersebut. Setelah kejadian itu Hamid pun pulang ke
rumahnya, tetapi sejak itu, ia tidak pernah lagi datang ke rumah Mak Asiah,
karena sejak itu ia meninggalkan kota Padang menuju Medan dan selanjutnya pergi
ke tanah Suci Mekah. Dari Medan Hamid berkirim surat kepada Zainab untuk minta
diri pergi menurutkan kemana arah kakinya berjalan. Surat Hamid itulah yang
selalu mendampingi Zainab yang dalam kesepian itu.
Sementara itu dikota suci mekah,Hamid bertemu dengan
Saleh,temannya dahulu. Hamid menceritakan segala perasaannya pada Zainab kepada
Saleh.cinta mereka tidak bisa disatukan karena
ibu Hamid sendiri melarang Hamid untuk mencintai Zainab,karena ibu Hamid
merasa tidak pantas.sementara Ternyata Saleh adalah suami dari Rosna,Rosna
sendiri adalah sahabat Zainab. Rosna dan saleh saling bercerita,berkirim surat
tentang kisah Hamid dan Zainab.Zainab yang sedih berlebihan,karena cinta yang
tidak bisa bersatu dengan Hamid,akhirnya menjadi sakit hingga akhirnya
meninggal.
Karena terlalu cintanya Hamid pada Zainab, terlebih mendengar
Zainab yang meninggal dunia, Hamid pun tak kuasa menahan sedih.Selalu
memikirkan Zainab, hingga akhirnya Hamid jatuh sakit dan meninggal dibawah
lindungan ka'bah.
(Kelebihan & Kekurangan)
· Kelebihan dari
Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah : Terletak pada alurnya yang dapat membawa
pembaca merasakan apa yang dirasakan Hamid dan Zainab, bagus dan kental akan
keagamaanya meskipun bercerita mengenai percintaan dan dapat memberitahukan
bahwa kita harus bersikap dermawan dan dapat peduli kepada orang lain yang
membutuhkan pertolongan kita meskipun itu dari kalangan bawah.
·
Kekurangan dari Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah : Terletak
pada bahasa yang digunakan. Karena bahasa yang digunakan yaitu antara bahasa
minang-indonesia dan bahasa melayu.
Unsur-unsur :
Tema dalam buku ini mengenai percintaan,meskipun percintaan
buku ini sarat akan keagamaan.Kisah cinta disini mencerikatan dua orang yang
memiliki perasaan sama antara satu sama lain namun mereka tidak sempat bersama
karena ajal telah memisahkan mereka.
Alur yang digunakan adalah alur campuran yakni dimulai dari
Hamid yang berada di Tanah Suci kemudian dia menceritakan mengenai masa lalunya
dan menceritakan kembali masa-masa Hamid di Tanah Suci.
Tokoh utama yang berada di certa ini adalah Hamid dan
Zainab.Hamid memiliki sifat yang baik, sabar, tawakal, agamis, menyayangi dan
menghormati orangtua. Zainab memiliki sifat yang baik, pendiam, sabar, patuh dan menghormati
orangtua.Tokoh yng lainnya yaitu Engku
Haji Ja’far dan Mak Asiah yang memiliki sifat dermawan.Ibu Hamid yang memiliki
sifat penyayang, peduli pada buah hati.Saleh
dan Rosna yang memiliki sifat sangat peduli kepada sahabat atau setia kawan.
Latar dalam cerita ini di Tanah Suci, Padang, Medan, pantai
dan rumah.Setting pada siang dan malam.Suasana dalam cerita ini sedih.Sudut
pandang dalam cerita ini adalah sudut pandang campuran karena terdapatn kata
saya dan nama orang. Nilai yang terkandung dalam cerita ini diantaranya nilai
moral, nilai agama dan nilai sosial.
Gaya penulisan yang digunakan pengarang adalah menggunakan
bahasa Melayu dan menggunakan bahasa arab, sehingga sedikit menyulitkan pembaca
dalam memahami maknanya. Walaupun demikian cerita ini tetap menarik untuk di
baca.
Selain itu terdapat beberapa majas, salah satunya adalah
majas pesonifikasi seperti, “surat itu bisu”, Repertisi seperti, “entah di darat,
entah di laut, entah sengsara kehausan”.
Amanat yang dapat kita ambil yaitu kita harus berani
mengungkapkan perasaan kita kepada orang yang kita cintai, jangan kita sesali
akan perbuatan kita yang tidak peka terhadap keadaan.
Sumber :
http://love-semester6.blogspot.com/2011/03/pengertian-resensi.htmlhttp://kumpulanilmu2.blogspot.com/2012/12/pengertian-resensi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar